Trampolinesystems, Serangan ransomware yang menimpa Pusat Data Nasional (PDN) telah mengejutkan publik dan menimbulkan kekhawatiran akan keamanan data negara. Sebagai bagian dari tanggung jawab dan langkah untuk mengatasi kejadian ini, tujuh pejabat teras yang memiliki peran kunci dalam menjaga keamanan data negara harus bertanggung jawab. Berikut profil singkat dari ketujuh pejabat tersebut:
1. Budi Arie Setiadi
Budi Arie Setiadi menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Sebagai pemimpin di kementerian yang bertanggung jawab atas teknologi informasi dan komunikasi, Budi Arie memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan infrastruktur digital negara aman dan terlindungi dari serangan siber. Pengalaman dan kebijakan yang ia terapkan sangat mempengaruhi kemampuan negara dalam menanggulangi ancaman digital.
Budi lahir di Jakarta pada 20 April 1979 dari pasangan Joko Asmoro dan Pudji Astuti.
Budi pernah menempuh pendidikan di SD dan SMP Fons Vitae II Jakarta Utara.
Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya ke SMA Kolose Kanisius di Jakarta Pusat pada 1988.
Selepas lulus dari bangku SMA pada 1990, Budi berkuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Indonesia (UI).
Setelah lulus, Budi pernah berkecimpung di beberapa media dan bidang usaha.
Selepas berkecimpung di dunia media dan usaha, Budi memutuskan terjun ke politik bersama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).
Ia mengemban tugas sebagai Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) PDI-P Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta pada 2005-2010.
Pada Agustus 2013, Budi memutuskan mendirikan relawan Pro Jokowi alias Projo.
Apakah beliau ini punya latar belakang pengalaman/pendidikan cyber security?
Lihat juga:
2. Hinsa Siburian
Hinsa Siburian adalah Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Sebagai kepala badan yang berfokus pada keamanan siber, Hinsa memegang peran vital dalam mendeteksi, mencegah, dan merespons serangan siber yang dapat mengancam keamanan nasional. Kepemimpinannya di BSSN sangat menentukan dalam upaya pemulihan dan perlindungan terhadap serangan ransomware seperti yang terjadi pada PDN.
Hinsa lahir di Tarutung, Tapanuli Utara pada 28 Oktober 1959 dan saat ini berusia 64 tahun.
Ia pernah mendapatkan penghargaan Adhi Makayasa dan Tri Sakti Wiratama.
Tak hanya mengenyam pendidikan di Akmil, Hinsa juga pernah mengikuti pendidikan Kursus Dasar Kecabangan Infanteri serta Kursus Lanjutan Perwira I dan II Infanteri.
Ia juga pernah belajar di Sekolah Staf dan Komando TNI AD, serta Sekolah Staf dan Komando TNI.
Selama berkiprah di TNI AD, Hinsa Siburian memiliki jam terbang atau pengalaman di bidang Infanteri (Kopassus).
Hinsa Siburian pernah dipercaya sebagai Dirlat Kodiklat TNI, Danrem 173/Praja Vira Braja Dam XVII/Cenderawasih, dan Kasdam XVII/Cenderawasih. Tak lupa posisi Asops Kepala Staf TNI Angkatan Darat.
Hinsa Siburian juga pernah menjadi Pangdam XVII/Cendrawasih, Danpussenif Kodiklat TNI AD, dan Wakil Kepala Staf TNI AD. Sementara pangkat terakhirnya adalah Letjen.
Saat rapat dengan Komisi I DPR RI, Hinsa mengakui ada kesalahan tata kelola di BSSN dan tidak memiliki backup data yang diretas.
3. Putu Jayan Danu Putra
Putu Jayan Danu Putra merupakan Direktur Jenderal Aplikasi Informatika di Kementerian Komunikasi dan Informatika. Dalam posisinya ini, Putu bertanggung jawab atas pengembangan aplikasi dan sistem informatika yang aman dan terintegrasi. Keamanan aplikasi yang digunakan oleh berbagai instansi pemerintah menjadi fokus utama untuk mencegah kebocoran data dan serangan siber.
Putu menggantikan posisi Komnjen Pol Suntana.
Putu lahir di Jakarta pada 20 November 1967 dan sekarang berusia 57 tahun.
Ia diberikan amanah untuk menjadi Wakil Kepala BSSN sejak 31 Juli 2023.
Putu Jayan Danu Putra merupakan lulusan Akpol tahun 1989 dan sangat berpengalaman di bidang reserse.
Jenderal bintang tiga ini pernah mengemban jabatan Kapolsek Koja Polres Metro Jakarta Utara, Wadirreskrimum Polda Metro Jaya, Kapolres Kediri Kota, Kapolres Blitar, dan Kapolda Bali.
Putu Jayan Danu Putra kemudian menjabat sebagai Pati Baintelkam Polri sebelum akhirnya ditunjuk sebagai Wakil Kepala BSSN pada Juli 2023.
4. Y.B. Susilo Wibowo
Y.B. Susilo Wibowo adalah Sekretaris Utama BSSN. Ia memiliki peran penting dalam mengkoordinasikan kebijakan dan strategi keamanan siber di seluruh instansi pemerintahan. Susilo bertanggung jawab atas penerapan standar keamanan dan memastikan semua lembaga pemerintah mematuhi protokol yang ditetapkan oleh BSSN.
Y.B. Susilo Wibowo menjabat sebagai Sekretaris Utama Badan Siber dan Sandi Negara.
Ia lahir pada 20 Februari 1966, usianya kini 58 tahun.
Sebelumnya, ia pernah menjadi staf hingga menjabat sebagai Inspektur di Lembaga Sandi Negara.
5. Dono Indarto
Dono Indarto menjabat sebagai Kepala Pusat Operasi Keamanan Siber Nasional di BSSN. Dengan tanggung jawab mengawasi operasi keamanan siber nasional, Dono harus memastikan adanya langkah-langkah mitigasi yang efektif terhadap serangan ransomware. Pusat operasi yang ia pimpin juga berperan dalam memberikan respons cepat terhadap insiden siber.
Irjen. Pol. (Purn.) Dono Indarto lahir di Medan pada 27 Juni 1966 adalah seorang purnawirawan Polri.
Dono, lulusan Akpol 1990 ini berpengalaman dalam bidang reserse. Jabatan terakhir jenderal bintang dua ini adalah Pati Baintelkam (Penugasan pada BIN).
Jabatan pertama Dono pada tahun 1991 yakni Kapolsek Bissapu, Bantaeng, Sulawesi Selatan.
Dono juga pernah menjabat sebagai Kadensus 88/AT Polda Kaltim, Wakil Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, hingga Pati Baintelkam.
6. Sulistyo
Sulistyo adalah Direktur Keamanan Informasi di Kementerian Komunikasi dan Informatika. Tugasnya meliputi pengawasan dan pengembangan kebijakan keamanan informasi di seluruh kementerian dan lembaga. Sulistyo harus memastikan bahwa seluruh sistem informasi pemerintah memiliki perlindungan yang memadai terhadap ancaman siber.
Ia lahir pada 11 Oktober 1972, usianya kini 52 tahun.
Sebelumnya, ia pernah menjadi staf di Lembaga Sandi Negara, kemudian pernah menjabat sebagai Kaunitkom pada KBRI Amerika Serikat di Washington.
Sulistyo pernah menjabat sebagai Direktur Deteksi Ancaman BSSN dan Direktur Strategi Keamanan Siber dan Sandi BSSN.
Ia juga menjadi salah satu Doktor Siber pertama di Indonesia setelah lulus Sidang Ujian Doktor Terbuka Bidang Hubungan Internasional Program Pascasarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran pada 15 April 2020.
Sulistyo merupakan alumni Akademi Sandi Negara tahun 1994.
7. Slamet Aji Pamungkas
Slamet Aji Pamungkas menjabat sebagai Direktur Pengendalian Informasi di BSSN. Dalam posisinya, Slamet bertanggung jawab atas pengendalian dan pengawasan aliran informasi yang keluar dan masuk ke dalam sistem pemerintah. Ia juga berperan dalam menganalisis dan menanggulangi risiko yang berpotensi merusak keamanan data.
Ia lahir di Wonosobo pada 18 Juli 1967, usianya kini 57 tahun.
Kariernya di awali sebagai Perekayasa Utama di BPPT, kemudian menjabat sebagai Kasubdit Pengolahan Data dan Informasi pada Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).
Slamet kemudian ditugaskan di Badan Standardisasi Nasional (BSN) sebagai Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi.
Slamet merupakan alumni S1 Matematika Universitas Diponegoro yang selanjutnya menyelesaikan S2 Information Engineering Toyohashi University of Technology di Jepang.

